Minggu, 10 Maret 2013
Walau berat beban seorang anak, beban seorang ibu pasti lebih berat lagi. Lalu beban nenek? Sesungguhnya aku ingin membahagiakan orang tua dan keturunan sebelumku. Memberi mereka sebuah kebanggaan tanpa meninggalkan apa yang menjadi ingin dan bahagiaku. Tapi, semua yang terpikirkan dan terancangkan di otak sebagai sebuah pikiran yang sempurna, tak selalu dapat direalisasikan di kehidupan nyata. Satu hal saja bisa mengubah segalanya. seperti yang kualami kini. Sebuah kejadian —bagi keluargaku ini adalah musibah— dapat megubah segalanya. Tahu apa yang detik ini kupikirkan? Aku benci kenapa kejadian itu terjadi, aku mengutuknya! Aku benci saat aku benar-benar harus membahagiakan orang tua dengan membiarkan kebahagiaanku sendiri pergi. Sekelibat aku kesal pada kakakku tersayang, kakakku satu-satunya. Kau tahu, berada di persimpangan jalan sangat terkutuk. Aku tak tahu harus mulai mengambil salah satu jalan di persimpangan ini pada detik ini juga atau menunda hingga aku terpaksa harus selalu di keadaan terkutuk ini, sampai salah satu jalan menjadi tidak bisa dilewati secara alami, sehingga aku hanya akan memilih jalan lainnya, karena hanya itu yang bisa dilewati. Poor, Friska. Maafkan aku Opung, maafkan aku Mama, maafkan aku Tyo. Sungguh, air mataku pecah tak tertahan begitu juga hatiku.

